Selasa, 08 Juni 2010

Sosialisasi Peran Gender Melalui Aktifitas Bermain

Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan yang bisa dilakukan oleh semua usia mulai dari anak-anak hingga dewasa. Bermain juga mengharuskan kita untuk berinteraksi dengan orang lain (teman). Bermain pada masa anak-anak hingga dewasa tentu saja memiliki perbedaan. Bermain dalam kelompok berjenis kelamin sama meningkat pada usia 4-6 tahun (Maccoby & Jacklyn, 1987). Jenis permainannya pretend play (bermain pura-pura) dengan menekankan unsur non literality dimana realitas internal dari sebuah benda yang diutamakan daripada realitas eksternal. Menurut Ann Coley (1996) anak perempuan lebih menyenangi permainan boneka dan nonkompetisi fisik juga permainan yang melibatkan fantasi dan pretend games.

Fakta bahwa ibu lebih banyak berpartisipasi dalam pretend play (Haight, Parke & Black , 1997) daripada ayah dan bahwa orangtua lebih banyak terlibat dalam aktifitas pretend play anak perempuan dapat menyebabkan anak menghubungkan pretend play pada peran gender perempuan. Sedangkan aktifitas bermain fisik yang lebih banyak melibatkan ayah dan anak laki-laki (Haight, Parke & Black, 1997) membuat anak menghubungkan kegiatan bermain fisik dengan peran gender maskulin.

Perbedaan jenis permainan anak laki-laki dan perempuan dengan orangtuanya menunjukkan bahwa bentuk permainan anak dipengaruhi oleh hasil sosialisasi yang dilakukan oleh orang di sekitarnya, terutama orangtua (Lindsey&Mize, 2001). Orang tua & keluarga adalah agen pertama yang membentuk perilaku gender-differentiated. Orangtua lebih mendukung anak perempuannya untuk terlibat dalam bermain pura-pura dan anak laki-laki terlibat dalam bermain fisik sehingga menguatkan preferensi permainan gender-typed pada anak-anak mereka. Hasil penelitian Lindsey&Mize (2001) menyatakan bahwa ibu dan ayah lebih banyak terlibat pada pretend play sebagai teman bermain anak perempuan daripada anak laki-lakinya. keterlibatan ibu dalam permainan anak laki-lakinya juga lebih sedikit. Hal ini dikarenakan bahwa interaksi antara gender dan konteks yang mempengaruhi pola perilaku ibu, ibu menganggap bahwa pretend play (bermain pura-pura) lebih cocok untuk anak perempuan daripada anak laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar