Sabtu, 29 Mei 2010

Copycat sebagai Bentuk Konformitas yang dapat Menghilangkan Identitas Personal

Pada usia remaja, disaat mencari identitas diri akan cenderung untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman se-gang atau seseorang yang dikagumi. Meniru penampilan hingga tingkah laku dan pribadi orang yang ditiru. Hal ini merupakan hal yang wajar, tetapi menjadi kebablasan ketika akhirnya karakter dan ciri diri sendiri menjadi hilang, bisa jadi akan dicap copycat. Fenomena ini seringkali terjadi ketika seorang remaja masuk ke dalam suatu kelompok di mana ia merasa harus menyesuaikan diri agar dapat diterima sebagai anggota kelompok itu.

Copycat atau dalam sosiologi disebut identifikasi, yaitu upaya yang dilakukan seseorang untuk menjadi sama (identik) dengan orang yang ditirunya baik dari segi gaya hidup maupun perilakunya (…,…). Banyak alasan mengapa seseorang menjadi copycat, misalnya karena dia over kagum dengan kelompoknya, krisis jati diri, kurang perhatian keluarga sehingga membutuhkan role model serta rasa takut terhadap celaan sosial. Celaan sosial memberikan efek yang signifikan terhadap sikap individu karena pada dasarnya setiap manusia cenderung mengusahakan persetujuan dan menghindari celaan kelompok dalam setiap tindakannya. Copycat ini mungkin saja bisa menjadi bentuk konformitas yang membuat kelompok terlihat kompak namun jika berlebihan akan menghilangkan identitas personalnya.

Menurut Herbert Kelman, seorang Psikolog dari Harvard University, identifikasi merupakan salah satu bentuk dari konformitas. Di dalam konformitas ada suatu “tekanan” yang dinyatakan secara eksplisit dan implisit dari lingkungan sekitar yang memaksa seseorang agar bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan kelompok. Tekanan untuk melakukan konformasi sangat kuat, sehingga usaha untuk menghindari situasi yang menekan dapat menenggelamkan nilai personalnya (Baron, Byrne, dan Branscombe, 2008).

Dalam hierarki kebutuhan Maslow, salah satu kebutuhan utama manusia adalah dihargai dan diperhatikan oleh orang lain (sense of belongingness). Pada umumnya, copycat merupakan cara seseorang agar merasa lebih diterima oleh kelompok jika bertingkah laku dan bersikap sama dengan orang yang dianggap sebagai panutan. Seorang yang dicap sebagai copycat memiliki motif untuk disukai oleh orang lain (normative social influence). Mereka merasa diakui apabila bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkan oleh kelompok. Ada kebutuhan kuat dalam diri manusia untuk bertindak benar atau tepat sehingga bisa diterima dan disukai oleh orang lain.

Konformitas semacam ini baik untuk meningkatkan kohesivitas kelompok dan mengurangi kesalahpahaman karena perbedaan. Namun, jangan sampai identitas personal pun hilang. Copycat akan cenderung mengarahkan tingkah lakunya dengan kelompok agar menjadi kompak dan diterima dalam kelompok. Keunikan yang hilang menjadikan individu hidup dalam bayang-bayang orang lain. Menjadi copycat dianggap menjadi jalan terbaik untuk menghindari agitation related emotions karena yang muncul dalam individu saat itu adalah ought self yang memiliki ketakutan akan penolakan secara sosial.

Kamis, 27 Mei 2010

20 years old

23 Mei 2010, tepat menginjak usia 20 tahun...memasuki usia remaja akhir atau dewasa awal tapi yang pasti usia yang seharusnya sudah lebih mandiri,,dewasa,,bijaksana..
ulangtahun kali ini dapet 2 kali 'surprise' dan 2 kali tiup lilin..makasih buat semua usaha kejutannya..terharu..sayang kalian...

pendidikan seks untuk remaja (pria) di Lembaga Pemasyarakatan (LP)

Masa remaja itu sendiri ditandai dengan pubertas. Pubertas merupakan kematangan dalam organ seksual dan kemampuan untuk bereproduksi. Dengan demikian, adalah wajar dan normal jika remaja memiliki ketertarikan seksual, dan penting untuk diketahui bahwa denganberfungsinya organ seksual, mereka sudah dapat bereproduksi, dan menampilkan perilakuseksual/sexual behaviors. Remaja yang berada dalam LP merupakan anak-anak yang memerlukan perhatian khusus karena perilakunya yang meresahkan masyarakat seperti mencuri atau mengedarkan dan mengonsumsi narkoba atau perbuatan tidak menyenangkan lainnya. Namun, mereka tetap mengalamiperkembangan baik fisik, kognitif maupun psikososial.

Mereka sangat antusias ketika diberikan sex education yang bertema love, sex and dating. Terutama ketika disajikan materi seks dengan berbagai video yang memancing mereka untuk tidak beranjak dari tempat duduknya. Seks itu sendiri tidak hanya mempunyai makna cinta, tetapi mempunyai banyak makna (reproduksi, memperoleh pengalaman/tantangan, rekreasi, membuktikan ‘kejantanan’, dsb). Namun bagaimanapun juga, kita tidak dapat sembarangan melakukan hubungan seks, mengingat bahaya/hal-hal buruk yang mungkin kita alami apabila kita melakukannya tanpa pikir panjang.

Pengetahuan mereka mengenai alat kontrasepsi (kondom) dan kegunaannya hanya sebatas untuk mencegah kehamilan padahal alat kontrasepsi itu juga menjadi pencegah dalam penularan penyakit seksual yang berbahaya. Sementara itu, pengetahuan mengenai cinta dan perilaku seksual perlu diberikan dengan cara sex education yang menarik disertai dengan video-video yang relevan dan membuat mereka memperhatikan materi yang diberikan dan ‘menangkap’ pesan yang disampaikan. Jangan sampai mereka menganggap bahwa hubungan seksual pranikah disalahartikan yakni dibolehkan asalkan menggunakan alat kontrasepsi sementara tidak melakukannya sampai menikah menjadi hal yang tidak perlu lagi dilakukan selama tidak menyebabkan kehamilan dan penyakit menular seksual.

Sebaiknya, pendidikan mengenai pelecehan seksual baik sebagai pelaku maupun korban juga diberikan dalam materi sex education. Mengenai apa saja dan bagaimana pelecehan seksual terjadi berikut pencegahannya. Saat ini, banyak kasus pelecehan seksual yang dialami baik olehanak-anak maupun remaja dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa telah menjadi korban pelecehan seksual dan kalau pun tahu, mereka takut untuk mengadukaanya karenadiancam oleh pelaku. Maka dari itu, diperlukan pengetahuan mengenai tempat pengaduanmasalah itu dan pencegahan pengalaman traumatisnya.